Aniliena


Saya sukaaaa sekali Rainbow Cake yang sedang ngetrend sekarang ini. Kue berlapis warna warni seperti warna pelangi itu selain bentuknya menarik dengan layer lapis yang sampai 6-7 lapis dan dilapisi butter creeam, rasanya dimulut juga lembuuuttt sekali. Tapi di kota saya untuk membeli cake pelangi ini dibandrol harga yang menurut saya cukup mahal untuk satu slice saja. Terkadang saya jadi mundur teratur kalo sudah melihat harga yang dipajang untuk satu slice Rainbow Cake di toko-toko roti ternama, padahal asli, saya sudah ngeces. hahaha....
mau bikin sendiri, hehehe... saya akui saya malas, karena meskipun proses pembuatan adonannya mudah, namun butuh kesabaran untuk memanggang satu persatu lapis cake. kemudian menyusunnya jadi tumpukan cantik. Ah, saya kurang sabar, apalagi, anak laki-laki saya nantinya akan ikut membantu, hehehe..

Lalu kemudian, saya menemukan resep kue seperti Rainbow Cake, bedanya, kue yang satu ini dikukus dan tidak perlu dikerjakan selapi demi selapis. Judul asli resep itu sebenarnya "Zebra Rainbow" yang saya temukan di salah satu majalah "PARAS" milik emak saya. Namun saya lupa, pada edisi yang keberapa. 

Percobaan dimulai.
Percobaan pertama gagal, hahaha. dikarenakan ketika adonan kue sudah masuk kukusan, saya tidak mengecek ketersedian gas di kompor saya. Hasilnya, ketika adonan baru dikukus 10 menit, kompor saya mati karena kehabisan gas, tentu saja, sudah dipastikan hasilnya bukan? Zebra Rainbow kukusan saya bantat. :p
Percobaan kedua, alhamdulillah sukses, walo ternyata setelah jadi, warnanya jadi kurang nge-Rainbow, hehe. bahkan kata salah satu om saya yang kebetulan datang dan mencicipi berujar colournya seperti kaos kaki milik om saya. hahaha.. komentar ini saya terjemahkan sebagai gurauan, karena saya yakin, rasanya tidak seperti kaos kaki.

Berikut saya share resep "Bukan Rainbow Cake" yang berjudul asli "Zebra Rainbow"
Bahan  :
- 3 butir telur ayam
- 125 gr gula pasir
- 100 gr tepung terigu
- 25 gr tepung maizena
- 100 ml susu cair
- 1 sdt pasta vanili
- 1 sdt SP (cake emulsifier)
- Pewarna merah, kuning, hijau, biru dan ungu

Cara Membuat :
1. Siapkan dulu loyang bulat berdiameter 16 cm, oles tipis dengan mentega, alasi dengan kertas roti, kemudian olesi kembali dengan mentega tipis-tipis.
2. Kocok telur, gula, SP dan pasta vanili sampai putih mengental
3. Masukkan teung terigu dan tepung maizena yang telah diayak menjadi satu lalu tuang susu cair, aduk rata
4. Bagi adonan menjadi 5 bagian dan masing-masing beri pewarna
5. Tuang adonan 2 sdm adonan merah di tengah-tengah loyang, lalu tuang 2 sdm adonan biru tepat ditengah-tengah adonan merah.
6. Tuang 2 sdm adonan hijau ditengah adonan biru.
7. Tuang 2 sdm adonan ungu ditengah adonan hijau, lalu tuang 2 sdm adonan kuning ditengah adonan ungu. begitu seterusnya hingga semua adonan habis.
8. Kukus dalam dandang pengukus selama 25 menit. Setelah uap panas hilang keluarkan dari loyang.

Oiya, sebelum adonan masuk pengukus, panaskan terlebih dahulu dandang pengukus, jadi adonan tidak menunggu lama sebelum dimasukkan ke pengukus. Alasi tutup dandang dengan serbet bersih dan jangan membuka tutup dandang sebelum kue matang. 

Selamat mencoba, semoga warnanya cantik tidak seperti punya saya yaa...
Labels: 0 comments |
Aniliena
Minggu pagi kemaren, saya dan suami berniat merapikan kembali isi lemari pakaian kami sekaligus memilah pakaian-pakaian yang sudah tidak terpakai oleh kami lagi namun masih layak pakai. Nantinya pakaian-pakaian bekas pakai kami itu akan diberikan kepada siapapun yang mau memakainya dan akan kami drop ke rumah mertua saya. Biasanya pakaian-pakaian suami saya berupa kaos, kemeja dan celana panjang akan turun pakai ke adik-adik suami saya. Yah, adik beradik suami saya berjumlah 4 orang dan semuanya laki-laki, jadi barang yang turun temurun seperti ini pastinya sudah menjadi hal yang biasa di keluarga kami. Sementara pakaian bekas pakai saya akan diberikan kepada siapapun yang suka. Karena saya tidak punya adik perempuan tentu saja tidak berlaku hukum turun temurun seperti suami saya J

Kami mulai membongkar dan merapikan isi lemari kami pukul 9 pagi dan selesai pukul 10 pagi, dibantu
dhimas, tentu saja. Anak laki-laki saya ini dengan senangnya membantu melipat dan memasukkan pakaian
yang hendak kami eksekusi kedalam kardus air mineral. Dengan hasil yang justru semakin berantakan tentu saja, hahaha. Tapi tak apa, yang penting niat dan tujuan anak laki-laki kebanggan saya ini sudah benar, bukan?

Alhasil, terkumpulah beberapa kaos santai milik suami yang sudah kekecilan, beberapa kemeja dan celana kain panjang, ditambah beberapa kaos berlengan pendek dan pakaian muslimah milik saya yang sudah sesak bila dipakai, celana jeans yang sudah terlalu ketat dan sebuah kebaya. Selesai itu saya mandi dan segera bersiap-siap untuk ke rumah mertua saya.
Selasai mandi dan hendak mengepak kardus, tiba-tiba datang ibu saya mengatakan kalau kardus kami masih muat diisi beberapa pakaian lagi, ada beberapa pakaian muslimah milik ibu yang sudah tak terpakai lagi. Alhamdulillah, bertambah lagi jumlah pakaian perempuan yang bisa disumbangkan. Kemudian saya dan ibu saya pergi kekamar beliau dan mulai memilah-milah pakaian yang hendak disumbangkan beliau. Selesainya, ibu saya kemudian mengeluarkan 2 model gamis yang seingat saya baru dipakai beliau sekali.

“yg itu mw ikut dikarduskan juga, ma?” tanya saya
“nggg...”beliau ragu sejenak, “keliatannya malah muat ke kamu. Buat kamu ja.”

Saya terperangah, tapi senang. Hehe. Gamis-gamis milik ibu memang selalu saya suka. Modelnya sederhana tapi bersahaja dan tetap modis. Akhirnya saya coba kedua gamis tadi dan alhamdulillah pas! Pas modelnya, pas pula dengan kebutuhan saya. Saya memang berniat untuk membeli 1 buah gamis lagi nanti. Apa ibu saya punya kemampuan membaca pikiran ya?

Setelah mengucapkan terimakasih sambil mesem-mesem kegirangan saya segera ke kamar saya dan menunjukkan kepada suami saya. Reaksi pertama suami saya jelas hanya tersenyum. Reaksi kedua cuma bilang “rejeki”. Iya!! Rejeki ini namanya. Rejeki yang datang sebagai balasan dari niat bersedakah yang baru sebatas niat, yang belum sampai ke tangan yang membutuhkan.

Setelah lewat beberapa hari dari hari Minggu itu, saya dan suami, sedang mengobrol di ruang kerja suami saya yang masih menumpang di garasi milik Bapak saya. Obrolan kami ketika itu, seingat saya, tentang keinginan kami pergi berumrah. Lalu kami menyinggung soal rejeki yang datangnya selalu dari arah yang tidak pernah kita duga-duga. Wujudnya pun bisa bermacam-macam. Peristiwa hari Minggu itulah bukti nyatanya. Bukti yang sangat kecil diantara kuasa Allah Swt. Kami jadi teringat tausyiah ust. Yusuf Mansur yang selalu mengutamakan konsep sedekah. Dengan sedekah membuat kita jadi dimudahkan oleh Allah Swt untuk mendatangkan rejeki berikutnya. Ini rupanya yang hendak disampaikan beliau mengenai rahasia mulia dalam seni mencari rejeki.

Alhamdulillah.
Di penghujung hari Minggu itu, kami semua mendapat balasan langsung dari niat kami. Saya memperoleh gamis milik ibu saya yang sudah kesempitan. Suami saya mendapatkan oleh-oleh kaos santai dari adik saya yang pulang jalan-jalan dari Kuching. Dan ibu saya dihadiahi sebuah tas Burberry cantik dari salah seorang muridnya.
Alhamdulillah wa syukurillah
Aniliena
Yeayy!!
Hampir pertengahan tahun 2013.
Masih sibuk-sibuk mengurusi swami dan anak. Alhamdulillah jagoan neon saya baru satu dan belom ada planning buat ngasi dedek bayi buat si mmas, karena eh karena... ada beberapa planning yang skala prioritasnya diatas ‘nambah anak’.
Setelah dua tahun ini ngonline, chat sana sini, ngepesbuk, dan googgling, dan ngeyoutube, dan ngedownload sanah sinih, akhirnya saya memutuskan untuk mengaktifkan kembali account blog saya, yang alhamdulillaaaaaaahhhh... passwordnya masih inget. Hahaha. Berusaha untuk menggali kembali apa tujuan saya membuat account blog ini. Sekedar ikut-ikutan atau sekedar iseng nulis2 atau saya ingin mendapatkan sesuatu dari blog ini. Kepuasan pribadi? Menguji sampai mana kemampuan menulis saya? Atau apa? Atau mungkin saya cuma ingin energi uneg-uneg saya tersalurkan.
Soal ini, 2 tahun lalu saya punya sahabat. Very best friend ever lah. Segalanya saya bagi dengannya. Kesenangan, kesedihan, keceriaan, kemarahan, tak ada satu rahasiapun yang saya sembunyikan dari nya dan rahasia saya selalu aman ditangannya.
Lalu kenapa dia saya sebut sahabat saya 2 tahun yang lalu? Karena ternyata takdir menggariskan persahabatan dan pertemuan kami cukup sampai di 2 tahun yang lalu. Karena sakit, sahabat tersayang saya ini lebih dulu menghadap Illahi, kurang beberapa hari dari hari lahirnya yang selalu kami rayakan bersama. Entah sejak kapan, energi uneg-uneg saya menjadi sulit tersalurkan. Dulu, asalkan melintas sebuah ide tulisan di benak saya, saya bisa dengan mudahnya menulis. Walaupun tulisan saya tidak pernah saya publikasikan di media manapun. Tulisan saya dulu kadang hanya berada di secarik kertas, kemudian dibaca oleh sahabat saya, kemudian kami diskusikan bersama. Lalu secarik kertas tadi kemudian menjadi penghuni “papper box” kami yang tiba-tiba hilang dan tidak dapat saya temukan kembali. Saya jadi sering rindu pada sahabat saya ini, meski tidak pernah saya ungkapkan ke orang lain, termasuk kepada suami saya. Lalu jika saya sedang rindu saya hanya bisa menghadiahi sahabat tersayang saya dengan Surah Al-Fatihah dan Surah Yasiin. Mudah-mudahan dua amalan ini membuat sahabat saya dimudahkan.
Jadi, demikianlah. Mungkin. Penyebab saya ingin belajar menulis lagi. Agar segala sesuatu yang ada dibenak saya tersalurkan. Agar saya mulai terbiasa menulis tanpa berdiskusi dengan sahabat saya itu, karena toh, saya masih punya sahabat-sahabat lain yang mau diajak berdiskusi. Karena toh, setidaknya tulisan-tulisan saya nantinya mendatangkan manfaat paling tidak untuk diri saya sendiri lebih dahulu. Karena toh, menulis satu paragraf itu rasanya lebih bijaksana daripada berbicara satu jam.
Aniliena
"" Blog ini sedang dalam perbaikan ""
Aniliena
Sesuai judulnya....ini baru pertama kali nyoba ngeblog lewat hape..hohoho...(ketinggalan banget saya, kemaren2 wktu org rajin ngeblog kemana neng??)
dan ya ampuuuuunnn...blog ini betul2 blog yg ga ada gunanya ya.. Sepi postingan, sepi informasi, yg ada malahan curhat.. ^^'
sebenarnya tujuan saya ngeblog tu apaan toohh????
Hadooooohhh.
Yah, semoga setelah bisa dn sukses ngeblog lewat hape, diriku jd lebih rajin posting...
Mohon doanya...